Srimulyo, 27 Juli 2025 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) dari Universitas Diponegoro yang tergabung dalam Tim 133 di Desa Srimulyo yaitu Syafiqur Rahman (mahasiswa jurusan Peternakan) mengadakan kegiatan edukasi mengenai pemanfaatan tepung maggot (larva lalat BSF) sebagai pakan ternak. Edukasi ini mengarah kepada target masyarakat umum yang bertujuan agar masyarakat mampu mengolah limbah dengan pemanfaatan maggot menjadi tepung. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Minggu (27/07) di Rumah Bu Dukuh Dusun Onggopatran, Desa Srimulyo.
Dalam kegiatan tersebut, tim mahasiswa Saintek kelompok 2 menampilkan poster edukatif berjudul “Tepung Maggot: Kandungan Gizi untuk Ternak dan Tanaman”. Poster ini menjelaskan secara visual dan informatif tentang proses pengenalan, pembuatan, kandungan nutrisi, serta faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas.
“Tepung Maggot mampu menjadi alternatif pakan ternak sebagai solusi nutrisi dan solusi ekologi masyarakat desa” ungkap Arija Qoshasi ketika memberikan edukasi di Expo kepada Ibu-Ibu Dusun Onggopatran, Minggu (27/07).
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat desa terhadap alternatif pakan ternak yang lebih ekonomis, bernutrisi tinggi, dan berkelanjutan. Edukasi dilakukan secara interaktif dengan sesi tanya jawab serta penjelasan lanjutan pada expo.
Pada expo tersebut turut dipresentasikan poster berjudul ‘Pengendalian Sampah Organik Rumah Tangga dengan Maggot: Upaya Mengurangi Habitat Tikus dan Risiko Leptospirosis’ dengan sasaran masyarakat umum. Poster ini menyoroti manfaat memelihara maggot, yang tidak hanya berperan sebagai metode pengendalian sampah organik rumah tangga, tetapi juga menjadi salah satu strategi penanggulangan kasus leptospirosis yang belakangan ini menjadi isu mengkhawatirkan dalam kesehatan masyarakat di beberapa wilayah Yogyakarta.
Dalam poster tersebut dijelaskan bahwa vektor penyakit leptospirosis adalah tikus, yang umumnya mencari makanan dari sampah organik. Dengan mengalihkan sampah organik menjadi pakan maggot, maka habitat dan sumber makanan tikus dapat dikurangi, sehingga secara tidak langsung dapat membantu mencegah penyebaran leptospirosis. Selain membahas hubungan tersebut, poster juga dilengkapi dengan tata cara memelihara maggot secara sederhana agar mudah dipahami oleh masyarakat.
Menyusun poster tentang bagaimana memelihara maggot bisa menjadi salah satu penanggulangan dari penyakit zoonosis yaitu leptospirosis. Leptospirosis merupakan jenis kasus penyakit KLB yang lumayan mengkhawatirkan di daerah D.I. Yogyakarta. Penyakit ini biasa disebarkan melalui air dan tanah yang tercemar oleh urine tikus. Tikus biasa mencari makan berupa sampah organik di tempat sampah. Namun, jika sampah organik tersebut, yang biasanya menjadi makanan tikus, tapi dijadikan makanan maggot. Sehingga, memelihara maggot secara tidak langsung selain mengurangi sampah organik juga bisa mengurangi kasus leptospirosis. “Selain pakan ternak, Tepung Maggot juga mampu menjadi alternatif campuran pakan perikanan karena mendukung perkembangan ikan yang baik sebagai solusi nutrisi” ungkap Faris Bagus Aryaputa Herwinda ketika memberikan edukasi di Expo kepada Ibu-Ibu Dusun Onggopatran, Minggu (27/07).