Tak Mau Bertanggung Jawab, Roy Suryo Kini Menyalahkan UGM atas Masalah Ijazah Jokowi


karebata.com

Kembali lagi Roy Suryo berurusan dengan pengacara Jokowi, yakni Yakup Hasibuan.

Apabila sebelumnya Roy Suryo mengklaim bahwa Ijazah Jokowi adalah palsu, saat ini Roy Suryo malahan memarahi pihak Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mantan Menteri Pendidikan tersebut juga mengkritik universitas Universitas Gadjah Mada (UGM), tempat Jokowi belajar, karena diduga melanggar aturan dengan serius.

Roy Suryo mengeluarkan pernyataan tersebut ketika sedang berdebat dengan Yakup Hasibuan di televisi nasional.

Pada awalnya, Yakup Hasibuan menginterogasi Roy Suryo yang secara konsisten menuduh bahwa ijazah Jokowi merupakan dokumen tiruan.

Yakup merasa penasarana, apakah Roy Suryo telah benar-benar menyaksikan sendiri ijazah Jokowi untuk memastikannya sebagai bukti palsu atau tidak.

Menangapi pertanyaan dari Yakup, Roy Suryo segera mengerek nada bicaranya.

“Oh apakah Anda pernah melihat ijazahnya (Jokowi), Mas?” bertanya Yakup Hasibuan, sebagaimana dikutip dalam siaran inews TV, pada hari Rabu (21/5/2025).

“Itulah yang diunggah Sandi,” kata Roy Suryo.

“Apa kamu belum pernah melihatnya sebelumnya?” tanya Yakub sekali lagi.

“Bila itu keliru maka artinya Sandi juga akan keliru,” tambah Roy.

Tidak puas, Yakup kemudian menanyakan lagi kepada Roy tentang ijazah Jokowi.

Yakup pun tak mau kalah berdebat dengan Roy lantaran dirinya sudah melihat ijazah Jokowi yang asli.

“Mas pernah lihat (ijazah Jokowi)?” tanya Yakup sembari tersenyum.

“Mas pernah lihat?” tanya balik Roy.

“Pernah lah jelas, Mas pernah lihat enggak?” jawab Yakup sambil tertawa.

“Sudah dong, ada nggak di sana?” tutur Roy menyela percakapan.

“Balas dulu dong, tadi aku bilang sudah pernah melihatnya (IJAZAH JOKOWI). Pak pernah lihat nggak sih?” tanya Yakup kembali.

“Oke ini yang saya lihat,” ujar Roy sembari menunjuk foto ijazah Jokowi yang tersebar di media.

Mendengarkan jawaban yang membingunkan Roy Suryo, Yakup kemudian menjelaskan tentang ijazah asli Jokowi.

Sehingga ternyata ijasah Jokowi tersebut hanyalah sebuah kertas biasa alias analog, bukan versi digitalnya.

Maka Yakup terkejut, mengapa begitu banyak orang yang telah menganalisis ijazah Jokowi dengan pendekatan digital sepanjang waktu ini.

“Menarik sekali, ternyata ijazah Pak Jokowi adalah bentuk fisik dan tidak berbentuk elektronik. Namun, banyak pihak yang menyebut dirinya spesialis dalam bidang forensic digital seolah-olah objek tersebut bersifat digital padahal nyatanya benda tersebut merupakan barang analog. Sejauh ini, hal-hal apa saja sih yang telah dianalisis? Apakah sumber dokumen dari ijazah tersebut sudah diteliti dengan baik? Pernyataan Universitas Gadjah Mada juga menjelaskan bahwa ijazah tersebut memiliki format fisik; oleh karena itu, jika ingin menganalisanya menggunakan keahlian, haruslah melibatkan ahli yang tepat,” terang Yakup.


Roy Suryo salahkan UGM

Mengalami kekalahan dalam perdebatan melawan Yakub, Roy Suryo kemudian beralih membicarakan masalah izin pendidikan milik Jokowi.

Roy tiba-tiba menyoroti UGM karena telah menerbitkan ijazah Jokowi.

Roy menyatakan bahwa UGM meredupkan fakta tentang dekan di Fakultas Kehutanan.

“UGM dengan seenaknya menghapus catatan karier Prof Dr Ir Ahmad Soemitro yang telah meninggal 13 tahun sebelum penghapusan itu dilakukan, UGM benar-benar kejam,” kata Roy Suryo.

Menurut Roy, dia memiliki bukti bahwa UGM sudah merubah nama dekan sebenarnya untuk mendapatkan ijazah Jokowi.

Alasan yang diberikan oleh Roy Suryo, yakni dekan ketika Jokowi wisuda dari UGM, adalah Achmad Sumitro.

Namun, pada ijazah Jokowi tertulis nama sepupunya, Soenardi Prawirohatmodjo.

“Maka semula Prof Dr Ir Achmad Sumitro merupakan dekan di Fakultas Kehutanan UGM untuk tiga masa jabatan dari tahun 1971 hingga 1988. Namun, berdasarkan skripsinya yang disebut milik Jokowi, ternyata dia memiliki dekan yang berbeda. Setelah meninggalnya Prof Dr Ir Achmad Sumitro, 13 tahun kemudian, UGM memperbaiki informasi tersebut. Tetapi UGM lupa bahwa pernyataan dalam Bahasa Inggris belum diperbarui. Oleh karena itu, pada kesempatan mendatang, jika ingin melakukan revisi dengan lebih cermat, UGM harus sedikit lebih bijaksana,” tutup Roy Suryo.

Karena alasan tersebut, Roy dengan tegas menyatakan bahwa UGM telah memodifikasi sejarah untuk mendukung Jokowi.

“Maka riwayatnya hilang layaknya sepertiga dekade dari profesor Dr Ir Achmad Sumitro pada tahun 85 tak tercatat. Informasi ini ada di situs resmi ugm.ac.id. Ini menunjukkan bahwa UGM bahkan berani memodifikasi sejarah, padahal hal tersebut semestinya tidak boleh dilakukan hanya untuk menyamarkan kesalahan penulisan dalam ijazah,” tambah Roy.

Mendengar tuduhan baru dari Roy Suryo, raut wajah Yakup berubah tegang.

Takut dengan tudingan tersebut, Yakub mengatakan bahwa pernyataan Roy Suryo tentang UGM tadi sungguh sangat berisiko.

“Klaim yang baru saja disampaikan oleh Roy Suryo ini sungguh sangat berbahaya,” kata Yakup Hasibuan.

“Memang berbahaya,” timpal Roy.

“Serta bisa jadi merugikan banyak orang. Oleh karena itu, saya kira UGM lah yang berhak mengklarifikasi hal ini dengan cepat. Klaim tersebut sangat serius, menyebutkan bahwa lembaga yang kita hormati danpercaya di Indonesia telah melaksanakan tindakan seperti apa yang dikatakan Mas Roy Suryo,” ujar Yakup.

Artikel ini sudah dipublikasikan di
TribunnewsBogor.com

Exit mobile version