Orang-Orang Baik yang Tak Gemar Pamer: 7 Karakteristik Mereka, Menurut Ilmu Psikologi

AA1FaAJC



karebata.com

Dalam lingkungan di mana semua momen sering dibagikan di media sosial, bahkan ketika sedang berbuat baik, masih ada beberapa individu yang lebih memilih untuk tidak mengunggah apapun. Untuk mereka, perbuatan baik tak perlu dilihat oleh banyak orang supaya memiliki nilai maknawi.


Phenomenon ini menggambarkan perubahan nilai dalam masyarakat. Akan tetapi, orang-orang yang lebih memilih untuk terdiam dan tak menampilkan kebaikan sebenarnya menunjukkan sifat-sifat tertentu yang cukup menarik dari sudut pandang ilmu psikologi.


Mereka berbuat kebaikan tidak dengan tujuan agar dicontohkan, melainkan karena mereka merasa penting untuk memberi bantuan. Keberesan datang dari efek yang ditimbulkan, bukannya dari perhatian publik atau cemoohan netizen.


Dilansir dari
Geediting
Pada hari Rabu (21/5), berikut tujuh ciri khas dari orang-orang yang tak merasa penting untuk menunjukkan kebaikannya melalui media sosial.



1. Menghormati Keaslian serta Ketulusan


Orang tersebut amat memperhatikan kesungguhan diri sendiri. Menurutnya, sumber sesunguhnya daripada suatu tindakan baik adalah kemurnian motivasi, tidak bergantung pada apresiasi atau pujian dari orang lain.


Melakukan pertolongan dikerjakan berdasarkan rasa simpati, bukannya untuk memperoleh pengesahan. Mereka yakin bahwa kebahagiaan tertinggi dirasakan ketika menyadari bahwa tindakan sederhananya mampu menciptakan perbedaan yang signifikan.



2. Menghormati Privasi


Menjaga kerahasiaan merupakan salah satu karakteristik penting. Selain melindungi kekhusyukan diri mereka sendiri, mereka juga memuliakan hal-hal pribadi dari individu yang sedang membantu.


Tidak setiap kisah harus diunggah ke platform media sosial. Mereka merasa bahwa terdapat beberapa saat yang jauh lebih bermakna apabila disimpan sebagai bagian dari privasi mereka sendiri.



3. Mempunyai Tingkat Kepercayaan Diri yang Baik


Seseorang yang tak merasa penting untuk menunjukkan kebaikannya umumnya memiliki keyakinan diri yang kuat. Mereka tidak bergantung kepada pujian, komentar, ataupun luasnya sebaran postingan mereka untuk mendefinisikan nilai dirinya.


Mereka menyadari bahwa harga diri ditentukan oleh perbuatan sebenarnya, bukannya respons yang datang dari media sosial. Artinya, apresiasi tertinggi bermula dari kesadaran pribadi.



4. Semakin Terlibat dalam Setiap Detil Kehidupan


Alasannya mereka ragu untuk memposting tentang hal-hal positif adalah bahwa mereka cenderung ingin meresapinya sepenuhnya. Prioritas mereka terletak pada pengalaman langsung daripada proses merekam moment tersebut, dengan fokus yang jatuh pada esensi perbuatannya sendiri.


Bagi mereka, senyum dari orang yang dibantu atau ucapan terima kasih yang tulus jauh lebih berarti dibandingkan statistik tayangan unggahan di media sosial.



5. Memiliki Kecerdasan Emosional yang Tinggi


Sifat lain yang menonjol adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami perasaan, baik diri sendiri maupun orang lain. Mereka peka terhadap dampak emosional yang mungkin muncul jika suatu momen dibagikan ke publik.


Mereka enggan menyebabkan orang yang ditolong merasa gelisah atau terpamerkan. Oleh karena itu, mereka lebih memilih untuk mengamankan suasana agar tetap privat dan dipenuhi rasa terima kasih.



6. Percaya pada Dampak Berantai


Orang dengan sifat ini juga meyakini bahwa satu tindakan baik bisa memicu kebaikan lainnya. Mereka percaya bahwa efek dari sebuah kebaikan bisa menyebar secara alami, meski tidak dibagikan secara publik.


Tujuan mereka bukan untuk viral, melainkan untuk menciptakan perubahan secara perlahan, bahkan jika hanya satu orang yang merasakannya.



7. Mempraktikkan Kerendahan Hati


Kesopanan merupakan salah satu prinsip penting yang dijunjung tinggi. Mereka tidak menganggap kebajikan sebagai hal untuk disombongkan, tetapi lebih kepada kewajiban etis sebagaimana mestinya dilakukan oleh setiap insan.


Mereka membantu tanpa pamrih, dan tidak menganggap bahwa kebaikan yang dilakukan layak menjadi sorotan. Bagi mereka, tindakan itu sudah cukup menjadi sumber kepuasan batin.


Dalam era di mana gaya hidup serampangan dan citraan daring sedang menjamur, karakteristik ini mengingatkan kita akan hal yang krusial: inti dari ketulusan baik hati belum tentu mesti diperlihatkan kepada umum. Perbuatan kecil namun ikhlas dapat membawa perubahan signifikan, bahkan jika tidak direkam dalam jaringan-media sosial.


Kebaikan sejati tidak membutuhkan sorotan kamera. Ia tetap berarti meski hanya diketahui oleh pelakunya dan orang yang merasakannya. Dengan karakter seperti ini, mereka membuktikan bahwa kebaikan tidak harus dilihat untuk bisa dirasakan. Cukup dilakukan dengan niat yang tulus dan hati yang penuh empati.

Exit mobile version