Eropa Tingkatkan Tekanan ke Israel Terkait Serangan Intensif di Gaza

BB1nxoAE


karebata.com–

Negara-negara Eropa mendorong lebih keras terhadap Israel agar berhenti melakukan serangan besar-besaran di Jalur Gaza dan memulai distribusi bantuan humaniter.

Kekuatan dorongan itu meningkat setelah serangan yang terjadi pada hari Selasa (20/5/2025), dikabarkan telah menyebabkan korban jiwa mencapai puluhan orang, di antaranya ada anak-anak dan wanita.

Meskipun Israel mengumumkan bahwa mereka sudah menyetujui kedatangan 93 truk bantuan dalam satu hari tersebut, PBB mencatat bahawa penyaluran bantuan masih tertahan di lokasi pengiriman.

PBB sebelumnya mengumumkan bahwa mereka hanya dapat memulai penyaluran bantuan lagi pada Senin (19/5/2025). Ini merupakan kali pertama setelah Israel menerapkan blokade penuh mulai tanggal 2 Maret.

Kebijakan tersebut telah mengakibatkan masalah kelaparan serta kekurangan obat-obatan yang signifikan di daerah yang dikendalikan oleh Hamas.

Tekanan global serta ancaman hukuman sanksi

Tekanan saat ini ditujukan kepada Israel oleh sejumlah negara di Benua Eropa. Bahkan, Uni Eropa sedang memikirkan untuk mengulas kembali hubungan kerjasama perdagangan mereka dengan Israel berkaitan dengan pemblokadian tersebut.

“Pada 27 negara anggota, kami mendapatkan dukungan yang sangat besar dari sebagian besar menteri luar negeri,” ungkap Kepala Urusan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas.

“Banyak negara menyadari bahwa kondisi di Gaza telah mencapai titik yang tak bisa diterima lagi, dan kami berharap dukungan humaniter segera tersedia,” tambahnya, seperti dilansir dari
AFP
pada Rabu (21/5/2025).

Swedia mengumumkan kesiapan mereka untuk mempromosikan sanksi dari Uni Eropa terhadap beberapa menteri Israel.

Inggris pun telah mengambil langkah keras dengan menghentikan pembicaraan tentang perjanjian perdagangan bebas, memanggil kembali duta besarnya dari Israel, dan menerapkan hukuman bagi para pemukim Yahudi yang berada di Tepi Barat.

“Menahan bantuan, meluaskan konflik, serta mengacuhkan keprihatinan sahabat dan partner kita. Hal ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut dan seharusnya diakhiri,” demikian tegas Menteri Luar Negeri Britania Raya David Lammy kepada parlemen, berkaitan dengan tekanan yang dialami oleh negara-negara Eropa pada Israel.

Israel membantah tuntutan itu. Spokesperson dari Ministry of Foreign Affairs Israel, Oren Marmorstein, menyebut bahwa tindakan negara-negara Eropa mencerminkan pemahaman yang sama sekali salah tentang realita rumit yang dijumpai oleh Israel.

Mengacu pada Marmorstein, tekanan luar takakan mempengaruhi komitmen Israel dalam menjamin eksistensinya serta keselamatannya.

Bantuan yang masih tersendat

COGAT, organisasi militer Israel yang bertanggung jawab atas administrasi area-area sipil di daerah Palestina, menyatakan bahwa mereka sudah membantu dalam pengiriman 93 truk bantuan dari PBB menuju Gaza. Bantuan tersebut meliputi tepung bagi bakery, makanan khusus bayi, obat-obatan, serta peralatan medis.

Namun, juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan timnya masih menghadapi kendala besar di lapangan.

“Hari ini, salah satu tim kami menunggu berjam-jam untuk mendapatkan izin dari Israel demi menjemput pasokan nutrisi. Sayangnya, mereka tak berhasil mengangkutnya ke gudang kami,” ungkapnya.

Kepala Urusan Manusia PBB, Tom Fletcher, mengatakan bahwa sembilan truk bantuan yang datang pada hari Senin hanya merupakan setetes air dalam samudera jika dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat yang sangat besar.

Sementara itu, Fletcher memperingatkan, sebanyak 14.000 bayi bisa meninggal dalam waktu 48 jam jika bantuan tidak segera tiba.

Menlu AS Marco Rubio turut mengungkapkan kekhawatirannya dalam rapat Komite Hubungan Luar Negeri Senat. “Pasokan itu jelas belum cukup. Kami berharap distribusinya meningkat dalam hari-hari dan minggu-minggu mendatang,” ujarnya.

Serangan terbaru telan korban sipil

Pasukan militer Israel memperkuat serangan mereka terhadap sejumlah area di Gaza kemarin, mengungkapkan komitmennya untuk memberantas organisasi Hamas setelah serangan oleh Hamas yang memulai konflik antara Israel dan Hamas pada tanggal 7 Oktober tahun lalu.

Pada serangan yang terjadi pada Selasa pagi dini hari, setidaknya 44 jiwa telah dikabarkan meninggal dunia, dengan mayoritas di antaranya adalah anak-anak serta wanita. “Banyak juga yang mengalami cedera,” ungkap Mahmud Bassal, sang juru bicara dari pertahanan sipil, dalam keterangannya.
AFP
.

Bassal mengatakan bahwa 15 orang meninggal dunia karena serangan terhadap stasiun bahan bakar di dekat kamp pengungsian Nuseirat. Sementara itu, delapan korban jiwa lainnya ditemukan di sebuah sekolah yang menjadi tempat perlindungan bagi penduduk sipil di Kota Gaza.

Militer Israel menyatakan bahwa mereka mengincar para anggota Hamas yang bertindak di dalam markas besar di area gedung sekolah tersebut. Akan tetapi, pihak militer tidak berkomentar tentang kejadian-kejadian lainnya.

Di tempat bom di stasiun pengisian bahan bakar tersebut, seorang penduduk lokal bernama Mahmoud al-Louh tampak mengangkat tas kain penuh dengan fragmen tubuh dan memasukkannya ke dalam mobilnya.

“Meraka adalah warga negara biasa, anak-anak yang tengah terlelap. Mengapa mereka harus menderita?” tanyanya.

Exit mobile version