Mitos atau Fakta: Cinta Pertama Anak Perempuan adalah Ayahnya?
Ada satu kalimat yang sering kita dengar, bahkan mungkin sejak kecil, “Cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya.” Sebuah kalimat yang terdengar puitis, tapi menyimpan makna yang sangat dalam, apalagi jika kita melihatnya bukan hanya dari sisi romantisme kata, tetapi dari sisi psikologis, emosional, dan hubungan yang terjalin antara seorang ayah dan putrinya.
Tapi, benarkah begitu? Apakah cinta pertama seorang anak perempuan benar-benar adalah sosok ayahnya?
Mari kita telusuri bersama, bukan untuk menetapkan benar atau salah, bukan untuk menghakimi atau membandingkan, melainkan untuk memahami dengan hati, bagaimana cinta seorang anak perempuan kepada ayahnya bisa menjadi begitu kuat, hangat, dan berkesan seumur hidup.
Bukan Tentang Perbandingan, Tetapi tentang Hubungan
Yang pertama kali harus disampaikan adalah cinta kepada ayah tidak selalu mengecualikan rasa cinta terhadap ibu. Frase ini mesti dijelaskan dari awal agar kita paham kalau dalam sebuah keluarga, kasih sayang bukanlah soal persaingan, tapi lebih ke hubungan. Seorang anak perempuan dapat merasakan ikatan emosi yang unik dengan ibunya maupun ayahnya; akan tetapi, keduanya sama-sama bernilai serta saling berkaitan satu sama lain.
Cinta seorang ibu mengalir melalui pelukannya yang hangat, perhatiannya yang tidak kenal lelah, serta kesadaran yang tampak seperti dapat membaca pikiran. Sedangkan untuk cinta sang bapak? Dia biasanya datang dalam kediaman dirinya, dengan gerakan yang jarang berbicara tetapi selalu menjamin segala sesuatunya terjaga dengan baik. Inilah tempat di mana ikatan khusus antara putri dan ayah berkembang—bukan karena janji-jani indah, namun lebih kepada rasa aman yang diciptakannya.
Bapak: Orang Pertama yang Pegangi Tangan Kami
Banyak gadis muda yang teringat tentang seberapa besar telapak tangan sang ayah ketika mereka masih kanak-kanak. Tangan tersebut sering memegangi genggaman lembut mereka sewaktu meniti jalanan, atau menciptakan pandangan baru dengan menjinjing tubuhnya di pundak demi menyaksikan alam dari ketinggian. Pada detik-detik biasa ini pula, para putri merasai makna perlindungan untuk pertama kalinya.
Disitulah, cinta pertamaku berkembang. Tentunya bukanlah cinta yang romantis, melainkan cinta dalam wujud paling sederhana: perasaan dipercayai, merasa aman, serta terimalah dengan utuh.
Saat seorang gadis memeluk bokongnya, dia mungkin tidak mengekspresikan kasih sayang dengan kata-kata, tetapi dalam dekapannya tersirat banyak pesan tanpa ucapan: “Aku betul-betul tenang di sini. Aku yakin dunia takkan menyakiti aku asalkunamu disampingku.”
Mencari Bayangan Ayah dalam Sosok Pasangan
Banyak perempuan dewasa yang, secara sadar atau tidak, memilih pasangan dengan kualitas yang mirip dengan ayahnya entah dari cara berbicara, cara memperlakukan perempuan, bahkan dari cara menatap dan memberi perhatian. Ini bukan berarti semua perempuan melakukan hal yang sama, atau bahwa mereka mencari sosok ayah yang baru. Bukan. Tapi kenangan masa kecil dan hubungan hangat dengan sang ayah seringkali menjadi acuan semacam kompas hati yang menunjukkan, “Aku ingin merasakan rasa aman itu lagi.”
Bagi perempuan yang tumbuh dengan ayah yang penuh kasih, kehadiran ayah bukan hanya kenangan masa kecil. Ia menjadi standar tentang bagaimana seorang lelaki seharusnya memperlakukan perempuan. Bukan dalam artian membandingkan pasangan dengan ayah, tapi lebih kepada, “Jika ayah bisa mencintaiku tanpa syarat, aku berharap kelak akan ada seseorang yang mencintaiku dengan ketulusan yang serupa.”
Tidak Semua Anak Perempuan Punya Ayah yang Hadir
Namun, kenyataannya tidak semua anak perempuan memiliki pengalaman yang sama. Ada yang kehilangan ayah sejak kecil, ada yang tumbuh tanpa figur ayah, ada juga yang memiliki ayah secara fisik tapi tidak hadir secara emosional. Lalu, apakah mereka tak bisa merasakan cinta pertama yang sama?
Mereka masih dapat merasakannya. Karena kasih sayang seorang putri kepada bapaknya tak selalu bergantung pada keberadaan fisikal. Kadang-kadang, perasaan tersebut muncul sebagai rasa kangen, harapan-harapan yang belum terealisasi, doa-doanya menjelang tidur, atau imajinasi mengenai betapa nikmatnya jika sang ayah berada disampingnya saat ini.
Seorang gadis yang dibesarkan tanpa kehadiran bapaknya masih dapat menampung kasih sayang tersebut sebagai bentuk harapan. Ia berharap pada akhirnya dia akan mampu membentuk ikatan baru bersama pasangan di masa depan, sebuah relasi yang penuh dengan ketenangan, perlindungan, serta penghargaan—layaknya bagaimana seorang ayah harus merawat anak perempuanya.
Cinta yang Tidak Pernah Memindahkan Peranan Sebagai Ibu
Sering kali terdapat ketakutan bahwa hubungan dekat antara seorang anak perempuan dengan bapanya dapat menyebabkan ibu merasa di pinggir kanan. Namun kenyataannya, rasa sayang sang putri kepada bapa-nya tak pernah berkurang bagi orang tua wanita tersebut. Sebab didalam hati kaum hawa, senantiasa tersedia tempat yang mencukupi untuk dua buah cinta yaitu dari sosok ibu dan juga ayah.
Cinta terhadap ayah lebih bersifat perlindungan dan kebanggan, sedangkan cinta kepada ibu merupakan destinasi untuk kembali, membagi cerita, serta meraih ketenangan. Kedua ikatan tersebut tak dapat dipisahkan. Anak perempuan mungkin menyembah sang ayah sebagai teladan yang tangguh, namun juga melihat ibunda sebagai pelabuhan di mana dia akan selalu pulang dan curhat tentang segala hal.
Tak ada perbedaan status antara yang lebih tinggi atau lebih rendah, cuma bedanya diwarna dan caranya saja.
Ayah Tetaplah Manusia Biasa
Kita harus mengerti juga bahwa bapak tidak lah seorang tokoh ideal. Dia dapat melakukan kesalahan, merasakan kemarahan, menjadi letih, serta belum tentu memiliki banyak waktu. Namun disinilah pesonanya terletak; yaitu cinta pertama timbul dari seseorang biasa, bukannya superhero. Seorang putri yang mencintai sang ayah secara tulus, ia mencintainya bukan atas dasar kewajaran tetapi berkat hadirnya dan upayanya dalam hidup.
Saat bapak masih datang menjemput meski sudah lelah dari kerja, saat dia dengan sembunyi menyisihkan hidangan favoritmu di atas meja, atau kala dia berdiri di pojok ruangan sambil tersenyum bangga memandangi penampilanmu tanpa kamu sadari, itu adalah wujud kasih sayang yang tak selalu kelihatan namun begitu dirasakan.
Fakta atau Mitos?
Selanjutnya, bisakah kita menentukan apakah ungkapan “Cinta pertama seorang anak perempuan selalu pada ayahnya” merupakan mitos atau kenyataan?
Jawabannya merupakan fakta emosional, bukan kenyataan absolut. Ini tidak seperti aturan yang berlaku bagi setiap individu, tetapi ini adalah pengalaman nyata yang dijalani oleh banyak wanita dalam cara mereka sendiri. Cinta dapat datang melalui belaian tangan hangat, namun juga bisa lahir dari kerinduan. Dapat dirasakan saat seseorang ada bersama kita, atau justru ketika hilang daripada hidup kita.
Tentu saja, untuk banyak wanita, bapak merupakan pria pertama yang memperlihatkan bahwa mereka bernilai, patut dikasihi, serta layak dijaga. Kenangan tersebut bertahan selama bertahun-tahun, walaupun zaman terus maju dan perannya dalam kehidupan pun ikut berubah.
Ungkapan untuk Bapak-bapak Yang Sedang Membacanya
Apabila Anda seorang bapak yang sedang membacakan teks ini, pahamilah bahwa kasih sayang putri Anda terhadap Anda tidak ternilai harganya. Bisa jadi dia belum tentu selalu memperlihatkan rasa cintanya atau Anda berpikir diri sendiri kurang pantas, namun yakinlah bahwa dia senantiasa mengenang keberadaan Anda dalam hatinya untuk selama-lamanya.
Bagi semua gadis yang telah merasakan kehangatan genggaman sang bapak, ataupun sekadar membayangkannya, kau pantas mendapatkan rasa cinta pertamamu yang penuh kenikmatan. Tidak guna menyebabkan luka, melainkan sebagai pengingat bahwa kau patut dicintai sepenuh hati, sama seperti bagaimana ayahmu dahulu mengasihi mu lewat cara-cara yang belum tentu sempat kau hargai saat itu.