Orang yang Banyak Bicara Saat Gugup Seringkali Tunjukkan 7 Tanda Subtle Ini


karebata.com

– Kami semua tentu sudah pernah mengalami kecemasan saat berada dalam situasi sosial yang crowded.

Ini menyebabkan kami cemas, dan secara tidak sadar, kami terus bercakap layaknya burung yang bernyanyi.

Walaupun memang benar bahwa sebagian besar dari kita mungkin berbicara lebih banyak ketika merasa gelisah, hal tersebut bisa saja menjadi indikasi yang cukup terlihat.

Psikologi mengungkapkan bahwa individu yang cenderung banyak berbicara saat merasa gugup biasanya memperlihatkan sejumlah tindakan khusus tanpa menyadarinya.

Mengenali hal ini bukan saja dapat membantu kita dalam menemukan kebiasaan gugup kita, melainkan juga membuat komunikasi kita menjadi lebih baik saat berada dalam kondisi stres.

Menurut laporan dari geediting.com, berikut ini tujuh tindakan tidak langsung yang sering diperlihatkan oleh individu menjadi sangat loquacious saat merasakan kecemasan.

1. Pengungkapan diri berlebihan

Banyak individu yang mengalami kecemasan cenderung memulai percakapan dengan berbagi pengalaman pribadinya tanpa disadarinya.

Ini dikenal dalam psikologi sebagai pembagian diri yang tidak terkontrol. Dalam sebuah obrolan biasa, sejumlah data pribadi sering digunakan sebagai metode untuk mengembangkan rasa aman dan ikatan sosial.

Namun, saat seseorang merasa gugup, keseimbangan ini dapat terganggu, yang menyebabkan meluapnya informasi pribadi.

Mereka mungkin mulai berbagi detail pribadi atau tidak relevan tentang kehidupan mereka dalam upaya untuk mengisi keheningan atau mengalihkan perhatian mereka dari kegugupan.

Perilaku ini bukan hanya merupakan tanda kegugupan, tetapi juga mekanisme pertahanan untuk menghindari keheningan yang canggung, bahkan jika itu berarti oversharing.

Mengenali perilaku ini dapat membantu kita mengelola alur percakapan kita sendiri dengan lebih baik selama situasi yang menegangkan dan memahami orang lain yang berperilaku serupa.

2. Pidato cepat

Ketika kita merasa cemas, otak seakan meningkatkan laju pembicaraan kita, sehingga membuat kita berbicara dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya.

Hal ini menyebabkan penjelasan tentang tindakan yang harus diambil dengan lebih rinci dan jelas menjadi tergesa-gesa.

Pendengar merasa terlalu banyak menerima informasi dari kita, sehingga sulit bagi mereka untuk sepenuhnya mengerti maksud kita.

Dan saat kami melihat ekspresi para peserta yang hadir, kami menyadari bahwa rasa gugup kami telah mengakibatkan penyampaian pidato menjadi terlalu cepat.

Menyadari perilaku ini dapat membantu kita memperlambat tempo bicara, menarik nafas, dan mengkomunikasikan pikiran kita dengan lebih efektif, bahkan saat kita merasa cemas.

3. Sering merubah topik

Kita semua pasti ingin membangun percakapan yang baik dan kohesif. Namun, saat suasana hati kita mulai tegang, mempertahankan pokok bahasan diskusi bisa sangat sulit.

Kita bisa tiba-tiba beralih dari topik satu ke topik lainnya yang tidak relevan. Perubahan topik yang cepat ini dapat membuat pendengar kita bingung dengan apa yang kita katakan.

Jika kita pahami lebih dalam, kegugupan kita membuat kita bingung ingin membicarakan apa, sehingga selalu berganti topik dengan cepat tanpa memberi kesempatan pendengar untuk bicara.

Mengenali tingkah laku ini bisa membantu kami terus konsentrasi saat bicara dan menjamin bahwa Kami memberi peluang pada pihak lain untuk bersosialisasi dengan Kita.

4. Pemakaian kata sambung yang tidak perlu

Istilah seperti ‘um’, ‘eh’, atau ‘jadi’ dianggap sebagai kata sambung, yang walaupun tak membawa bahaya secara langsung, namun bila sering kali dipakai ketika merasa cemas bisa mengacaukan arus dialog serta menurunkan rasa percaya diri.

Ungkapan penyanyi kunci sering dipakai untuk membeloki durasi ketika kita berusaha menyegarkan pemikiran kita.

Tetapi ketika kita merasa cemas, otak kita bisa jadi terlalu sibuk dan mulai menyisipkan banyak kata isian ke dalam percakapan kita.

Penerapan istilah-istilah tersebut terlalu sering menunjukkan bahwasanya saraf kita sudah mulai mendominasi, yang mana hal itu membuat kita merasa sulit untuk menyampaikan pemikiran kita dengan jernih.

Melihat tingkah laku ini pada diri kita bisa membuat kita lebih sadar akan cara berbicara kita sendiri.

Ini bisa memperbaiki kemampuan berkomunikasi kita, termasuk saat menghadapi keadaan yang membuat kita cemas.

5. Peningkatan volume

Perlu kita tahu bahwa suara kita memiliki kecenderungan alami untuk meninggi ketika kita sedang gugup.

Ini adalah cara lain untuk menarik tubuh kita bereaksi terhadap rasa stres. Kita mungkin mendapati diri kita berbicara lebih keras selama interview kerja yang menegangkan atau rapat penting tanpa menyadarinya.

Peningkatan volume ini merupakan respons bawah sadar kita terhadap rasa gugup, hampir seperti kita mencoba menegaskan kehadiran kita dalam menghadapi kecemasan.

Ini seolah-olah otak kita percaya bahwa semakin keras kita berbicara, semakin meyakinkan poin yang kita katakan.

Mengenali pola tersebut bisa membantu kita dalam mengatur kebiasaan sehari-hari. Ini membolehkan kita untuk menahan diri agar tidak meninggikan volumen suara, sehingga membuat kita tampak lebih tenang dan damai, meski di saat perasaan cemas sedang melanda.

6. Kesulitan dalam mendengarkan

Menyimak memiliki kepentingan yang sama seperti berbicara dalam konteks komunikasi yang efisien. Tetapi, saat kita mengalami rasa cemas dan lebih banyak bertutur kata, bagian ini kerap kali tidak diperhatikan.

Diskusi yang cemas bisa saja menjadi monolog satu arah, sehingga memberi sedikit kesempatan kepada pihak lain untuk ikut serta dalam pembicaraan tersebut.

Bukan bermaksud dengan sengaja menyepelekan apa yang diucapkan orang lain, namun pikiran kita yang penuh kecemasan terlampau asyik merencanakan respons untuk hal selanjutnya yang akan dibicarakan, hingga kita tidak dapat mendengarkan sepenuh hati.

Banyak di antara kita mungkin merasakannya, namun itu merupakan sesuatu yang normal. Kami semua adalah manusia dan kadang-kadang perasaan cemas bisa mendominasi kami.

Yang paling utama ialah kita mengenali kebiasaan tersebut dan dengan sengaja berupaya meningkatkan komunikasi kita agar menjadi lebih baik.

Dengan mengenali rasa cemas yang ada pada diri sendiri, kita bisa melambatkan kecepatan, menarik napas dalam-dalam, serta mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang disampaikan oleh orang lain.

Hal ini bisa menghasilkan dialog yang lebih terkendali dan berarti, meski di tengah rasa cemas.

7. Ucapan berulang-ulang

Tingkah laku primer dari seseorang yang cepat gelisah ialah perulangan. Ketika kita merasakan tekanan, pemikiran kita kerap kali terjebak dalam lingkaran, sehingga membuat kita mengevaluasi kembali titik-titik penting atau menceriterakan kembali narasi yang serupa.

Inilah cara otak kami berusaha memperoleh kembali kontrol atas kondisi yang kami pandang sebagai sesuatu yang menegangkan.

Dengan tetap memegang erat hal-hal yang membuat kita merasa nyaman, pikiran kita berharap bisa melewati perasaan kecemasan yang mendominasi diri kita.

Oleh karena itu, apabila kita menemukan diri sendiri terus-menerus menyampaikan informasi yang sama, sebaiknya diartikan sebagai sinyal lembut dari pikiran kita bahwa kemungkinan besar kita sedang merasakan kecemasan.

Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami tingkah laku tersebut serta berusaha melakukan komunikasi secara lebih efisien, meskipun suasana mungkin terasa sangat tegang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *