Mengapa Harus Selalu Lengkap dalam Menyembuhkan TB?



karebata.com


,


Jakarta


– Tuberkulosis (
TBC
Merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan utama di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Penyembuhan TBC mengharuskan pasien memiliki ketekunan serta kesabaran karena perawatannya harus dilanjutkan dengan teratur dan tidak boleh putus selama beberapa bulan.

Minum
obat
Bagi mereka yang menderita TB berbeda saat konsumsi obat dibandingkan dengan jenis obat lainnya. Seperti dilaporkan dari website tersebut,
Stop TB Indonesia
,
Perbedaan ini timbul akibat infeksi tuberkulosis yang diakibatkan oleh bakteria.
Mycobacterium tuberculosis
(MTB) yang bisa tersebar lewat udara saat penderita batuk atau bersin, memancarkan tetesan yang membawa bakteria.

Sebab penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri, perawatannya harus dijalankan dengan konsisten dan tidak boleh berhenti sejenak pun. Bacteria MTB termasuk jenis yang canggih, karena apabila seseorang memutuskan untuk mengakhiri pemberian Obat Anti Tuberkulosa (OAT), organisme ini bisa melakukan modifikasi pada genomnya, menyebabkan pergantian kodon protein genik mereka, sehingga membuat strain tubercle bacilli menjadi semakin resisten.

Apabila pasien berhenti meminum obat, maka MTB yang telah familiar dengan cara kerja OAT akan menyesuaikan diri dan membentuk strategi pertahanan baru untuk melawan obat-obatan tersebut. Akibat dari proses adaptasi ini adalah bahwa bakteri MTB bisa menjadi resistan atau tidak lagi sensitif terhadap obat yang tadinya digunakan, sehingga infeksi pulmoner pun mungkin timbul kembali dengan manifestasi gejala yang semakin parah, misalnya batuk bernanah darah.

Saat sudah resisten, perawatan membutuhkan jumlah obat yang lebih besar untuk menghadapi perlindungan baru dari bakteri TB. Hal tersebut menyebabkan waktu pemulihan bertambah panjang dan dampak negatif dari obat dapat semakin parah. Oleh karena itu, amat vital bagi pasien tuberkulosis untuk tetap minum obat supaya terbebas dari kekebalan obat, mencegah penyebarannya pada orang lain, dan mereduksi tingkat sakit maupun kematian disebabkan oleh penyakit ini.

Seperti yang diuraikan, dokter spesialis anak bernama Rina Triasih menegaskan bahwa mengakhiri terapi medis sebelum waktu yang tepat untuk penderita TBC bisa membuat kondisi mereka jadi lebih rumit dalam hal pengobatan. Dia menjelaskan, “Terkadang para orangtua percaya jika sang buah hati telah pulih sepenuhnya dan tak memerlukan konsumsi obat-obatan lagi, namun pandangan tersebut sangatlah membahayakan.” Hal ini disampaikannya sesuai laporan yang ada.
Antara
pada 3 Juli

2020.

Dia menyebutkan bahwa bagi penderita TB ringan, perawatan umumnya bertahan selama kurang lebih enam bulan, sedangkan TB yang parah membutuhkan terapi sampai dengan 12 bulan. Akan tetapi, ada kalanya pasien berhenti minum obat hanya setelah kira-kira satu bulan karena telah merasakan peningkatan kondisi mereka.

Habit ini sungguh berbahaya dan bisa merugikan proses pemulihan dari penyakit itu. Dia menambahkan, “Hasilnya, TBC menjadi resisten terhadap obat-obatan. Penyakit TBC yang resisten terhadap obat memerlukan perawatan yang jauh lebih rumit.”

Rina juga menambahkan bahwa baru-baru ini ada sebuah kasus di mana seorang anak menderita TBC resisten terhadap obat-obatan biasa, sehingga diperlukan perawatan melalui injeksi harian selama enam bulan. Tetapi saat ini, penanganan untuk TBC resisten obat telah disediakan dalam bentuk pil, walaupun memerlukan konsumsi banyak jenis obat. Menurutnya, durasi penyembuhan tetap mencapai 18 bulan dan memiliki dampak samping yang lebih beragam.

Agar menghindari penyebaran dari penyakit yang bisa ditularkan itu, dia merekomendasikan kepada para orang tua untuk menyediakan
vaksin
Vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) untuk buah hati mereka. Tambahan pula, meskipun si anak dalam keadaan sehat, lebih baik memberikan obat preventif terhadap tuberkulosis (TBC). Sebabnya adalah, “obat preventif ini kami berikan pada anak yang belum sakit tapi memiliki kontak dekat dengan orang dewasa yang menderita TBC,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *