Gasing Lengker Kembali Bergerak, Sasak Laga Menjadi Simbol Pelestarian Tradisi


karebata.com

— Warisan budaya berharga dari komunitas Sasak mulai bangkit lagi. Gasing lengker, permainan tradisional yang dahulu sering dikaitkan dengan kenangan masa kecil di desa-desa, sekarang kembali populer dan diminati oleh orang-orang dari segala umur di Pulau Lombok. Di beberapa bulan belakangan, antusiasme untuk lomba gasing ini semakin meningkat, terlebih di Kabupaten Lombok Timur.

Gasing lengker punya ciri khusus yang memisahkannya dari ragam gasing lainnya. Alat ini diperkuat oleh sebuah lingkar baja di sekelilingnya, ujung atas gasing untuk titik kontak ketika dilemparkan, ditambah poros di dasarnya yang jadi pijakan saat berotasi. Konstruksinya ini membuat gasing lengker semakin kokoh dan tetap stabil sewaktu putar, sambil menghasilkan bunyi unik waktu benturan terjadi di lapangan permainan.

Dimensi dari gasing yang tengah trend sekarang adalah antara 17 sampai 18 cm, serta masih tersedia pilihan lain seperti ukuran 15 atau 16 cm; angka itu merujuk kepada lebarnya gasing tersebut. Kompetisi untuk jenis gasing ini menjadi unggulan dalam acara-acara yang sering diselenggarakan seminggu sekali di beberapa daerah Lombok. Tiap kompetisi umumnya mempertemukan banyak kelompok, dan data terbaru menyebut bahwa total grup aktif telah melebihi 100 tim yang tersebar ke semua kabupaten di Pulau Lombok.

Satu di antara grup yang sangat dinamis dan memiliki kontribusi signifikan untuk membangkitkan kembali warisan budaya tersebut adalah Laga Sasak (Laskar Gasing Sasak). Grup ini didirikan pada tahun 2022 oleh beberapa individu penting dan pendukung aktivitas gasing dengan maksud merapikan permainan tradisional ini agar menjadi lebih tertata, serta menerima dukungan dari otoritas setempat demi melestarikan kekayaan budaya lokal.

“Gasing lengker tak sekadar hiburan, tetapi sebagian penting dari jati diri budaya Sasak. Lewat grup ini, kita berharap agar gasing bisa lagi menjadi simbol bangga bagi warga Lombok,” ungkap Lalu Nursiwan selaku salah satu pemimpin dalam Laga Sasak.

Tiap kelompok gulungan kayu biasanya memiliki sekitar 10 orang, dan uniknya lagi, keikutsertaan ini tak hanya terbuka untuk warga sebuah desa. Sebuah tim dapat dirakit dari penduduk desa, distrik, hingga kabupaten yang berlainan, menggambarkan jiwa kesatuan serta kerjasama khas komunitas Sasak.

Kabupaten Lombok Timur dikenal karena memiliki kelompok kereta api liar paling banyak. Setiap hari Sabtu dan Minggu, berbagai area terbuka seringkali diisi oleh para penggemar yang bergembira melihat perlombaan tersebut. Baik anak-anak, pemuda maupun lansia turut meramaikan acara ini sambil bersenang-senang dalam atmosfer persaudaraan.

Pihak pemerintah setempat juga mulai mengungkapkan minat mereka terhadap kelangsungan permainan ini. Visi dan misi Bupati serta Wakil Bupati terpilih Lombok Timur mencantumkan janji untuk memperlakukan topeng sebagai elemen warisan budaya yang harus dilindungi dan ditingkatkan. Ini merupakan kabar baik bagi masyarakat pemain topeng yang sebelumnya beroperasi tanpa bantuan resmi.

“Dulunya permainan gasing nyaris lenyap, namun saat ini semangat tersebut kembali bergelora. Kamilah menginginkan pada akhirnya, satu hari nanti gasing lengker dapat dimasukkan ke dalam kalender acara budaya yang ditetapkan secara resmi oleh pemerintahan kabupaten atau provinsi,” ungkap Agus, seorang pemimpin senior di komunitas gasing asal Lombok Tengah.

Dengan dedikasi yang tinggi untuk pemeliharaan serta dukungan dari banyak pihak, gasing lengker saat ini bukan hanya sebagai mainan tradisional saja, tetapi juga menjadi ikon bagi pencerahan budaya lokal di Lombok. Hal ini berhasil mengumpulkan generasi senior maupun junior dalam sebuah wadah bersama-sama: mempertahankan peninggalan nenek moyang mereka dengan rasa bangga. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *