Belanja Online Terus, Kenapa Saldo di Rekening Malah Cepat Kosong?

AA1AYsSu


karebata.com

– Geser, ketuk, lihat saja. Begitu seterusnya, secara berkelanjutan, seringkali tanpa disadari. Berbelanja daring kini hampir menjadi rutinitas harian yang nyaris otomatis. Terlebih dengan semakin agresifnya seluruh platform pasar digital dan perusahaan perdagangan elektronik memberikan promosi, pengiriman gratis, bahkan fitur beli-nanti-pembayaran-yang-cuma-perlu-klik-saja. Hal ini membuat sulit untuk menolak rayuan potongan harga di tengah malam, penjualan kilat mendadak, ataupun pemberitahuannya tentang “Produk impian Anda hanya tersisa satu!” saat sedang tidak ada kerjaan.

Segalanya dirasakan lebih mudah dan nyaman. Apakah Anda ingin membeli produk perawatan kulit, pakaian, atau hanya saja makanan ringan pada malam hari, cukup gunakan aplikasi tersebut dan barang-barang akan segera dikirim ke depan pintu rumah Anda. Tidak perlu meninggalkan rumah lagi, tidak perlu mengantre. Bahkan, dengan berbaringpun dapat melakukan pembelian. Namun dibalik seluruh kemudahan ini, ada sebuah pertanyaan yang kerap membuat kami terkejut saat mengecek saldo akun: “Mengapa uang saya sudah habis begitu cepat?”

Phenomenon ini tidak hanya dialami olehmu saja. Ada banyak orang, terlebih lagi generasi muda yang sudah sangat familiar dengan gaya hidup digital, merasa bahwa berbelanja secara online telah menjadi bagian dari rutinitas harian mereka. Bahkan hal itu dapat disebut sebagai mekanisme penanganan stres. Ketika sedih, lelah, atau bosan, jawaban untuknya adalah menggeser layar e-commerce dan membeli sesuatu. Terkadang alasannya bukan karena dibutuhkan, tetapi lebih kepada mencari “penyembuhan”. Namun demikian, pertanyaannya apakah ini hanyalah tentang kenyamanan ataukah kita mulai tersandera dalam pola konsumsi yang kurang sehat?

Teknologi membuat semuanya menjadi lebih cepat, bahkan dalam hal pengambilan keputusan soal berbelanja. Dahulu, proses pergi berbelanja itu menyita banyak usaha: harus meninggalkan rumah, membawa dompet, berjalan kaki atau menaiki kendaraan, lalu mencari-cari tempat parkir juga melihat-lihat barang di sana-sini. Kini? Cukup buka aplikasi, tap beberapa kali pada layar, sudah selesai. Aktivitas yang dulunya membutuhkan waktu serta energi dapat diselesaikan dengan hanya hitungan detik saja. Akibatnya, karena sangat mudah ini, kita cenderung tidak menyadari bahwa telah melakukan pembelian secara berlebihan.

Keadaan semakin menjadi-jadi karena adanya sistem promosi yang diciptakan untuk menghasilkan rasa urgensi. Penjualan kilas balik hanya berlangsung selama satu jam, diskon khusus seperti 12.12, dan pemberitahuan “boronglah sekarang sebelum stok habis” membuat kita merasa perlu cepat-cepat dalam pengambilan keputusan. Tanpa disadari, otak kita dipancing agar membeli barang-barang yang mungkin tidak benar-benar diperlukan. Akhirnya, proses pembelian itu sendiri beralih dari tindakan yang didorong oleh logika menjadi hal yang bersifat impulsif.

Permasalahannya adalah dampaknya langsung dirasakan di penghujung bulan. Uang berkurang drastis, meskipun sepertinya tidak banyak melakukan pembelanjaan. Lebih buruk lagi, kita cenderung memandang ini sebagai sesuatu yang wajar. Hingga suatu saat ketika saldo sudah sangat tipis, rasa penyesalan pun timbul. Namun ironisnya, pola tersebut kerap kembali terjadi begitu ada diskon besar-besaran di bulan selanjutnya.

Jika sudah seperti itu, diperlukan adanya introspeksi. Tidak melarang pembelian secara daring, tetapi sangat penting untuk menyadari hal tersebut dan mengontrolnya. Cobalah dimulai dengan bertanya pada diri sendiri saat akan melakukan checkout: “Apakah saya benar-benar membutuhkan ini, atau hanya ingin saja?” Atau Anda juga dapat mulai merekam pengeluaran yang dilakukan secara online agar bisa mengetahui pola-pola tertentu dan menjadi lebih bijaksana dalam mengatur prioritas.

Di samping itu, memiliki batas psikologis sangatlah krusial. Sebagai contoh, hindari membuka aplikasi belanja ketika sedang menghadapi tekanan atau kebosanan. Alih-alih berbelanja, cobalah mencari cara penanganan stres yang lebih positif seperti menulis diary, menyaksikan film, melakukan aktivitas senam ringan, atau bahkan hanya dengan bercengkerama bersama sahabat-sahabat Anda. Meskipun membelanjakan uang masih dapat menjadi bentuk hiburan, namun hal ini tidak harus dijadikan pilihan pertama saat perasaan mulai terombangkan.

Pada akhirnya, berbelanja secara online sungguh sangat menyenangkan dan benar-benar menguntungkan. Namun jika tidak dikuasai dengan baik, saldo Anda mungkin menjadi incaran tanpa disadari. Manfaatkan kemudahan teknologi ini namun hindari untuk tersandera oleh pemberitahuan-notifikasi tersebut. Sebab kemandirian finansial masih lebih bernilai dibanding benda-benda yang hanya menumpuk dalam daftar belanja virtual.

Belanja online memang mudah, namun mengapa uang di dalam dompet segera habis? Pahami indikasi dari perilaku boros serta bagaimana caranya untuk tetap bijak saat ada diskon setiap hari. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *