5 Doa agar Banjir Cepat Surut: Arab, Latin dan Artinya

AA1ybqgR

Musim hujan menjadi masa-masa ketika banjir rawan terjadi. Banjir pun merupakan musibah yang membawa kerugian, baik berupa material maupun nonmaterial. Untuk menghadapinya, kita pun bisa bersama-sama membaca doa untuk mempersiapkan diri, terutama secara mental.

Jika kamu merupakan seorang muslim, terdapat doa yang bisa dipanjatkan untuk mempersiapkan diri. Yuk, simak doanya di bawah ini!

1. Doa ketika turun hujan lebat

Dilansir buku “Kumpulan Do’a dan Dzikir: dalam Al-Qur’an dan Sunnah” karya Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr, Hadis Riwayat Bukhari nomor 1013 dan Muslim 897 menceritakan mengenai bagaimana kala itu terdapat seorang lelaki yang memberitahu Rasulullah SAW bahwasanya hujan sudah turun selama enam hari.

Curah hujan itu menyebabkan warga kehilangan harta benda dan juga menghancurkan infrastruktur jalan. Ketika hal ini terjadi, Nabi Muhammad SAW segera mengangkat lengannya sambil berdoa:


Ya Allah, di sekitar kami dan bukan atas kami, Ya Allah, limpahkanlah pada gunung-gununng, padang pasir, lembah-lembah, dasar-dasar jurang, dan akar-akaran pohon.

Ya Allah, berikanlah kami kemudahan dan lepaskanlah beban dari kami. Ya Allah, limpahkanlah pada pegunungan, padang pasir, aliran sungai, sumber air tanah, serta akar-akaran pohon-pohon itu.

Maknanya ialah, “Ya Allah, kirim lah hujan di sekeliling kita (yang memberkahi) tidak diatas kita (yang memusnahkan). Ya Allah, kiramlah hujan itu kepada padang yang tinggi, pegunungan, bukit-bukit, dasar-lembah, serta tempat pertumbuhan tanaman.”

Teks tersebut juga bisa Anda terapkan saat banjir datang supaya hujan yang jatuh dapat dimanfaatkan dengan baik dan mengalir menuju pegunungan, bukit, lembah, serta daerah-daerah pertumbuhan pepohonan.

2. Amalan untuk memohon agar hujan memberikan kebaikan

Berikutnya, doa ini biasanya diamalkan pada masa-masa hujan. Anda dapat mengamalkannya sewaktu awal hujan mulai turun serta sepanjang durasi hujan tersebut. Di bawah ini adalah bacana dari doa itu:


Ya Allah, hujan yang ringan dan berkah, serta memberikan manfaat.

Allâhumma shayyiban haniyyâ wa sayyiban nâfi‘â.

Artinya: wahai Tuhan saya, buatlah hujan tersebut menjadi hujan yang berkat pada akhirnya serta mengalirkan air yang berguna. (HR. Bukhari No. 1032)

Ibnu Baththah menyebutkan bahwa hadits tersebut merupakan dorongan untuk berdoa sewaktu hujan turun supaya faedah serta berkah makin meningkat, demikian pula dengan jumlah manfaatnya akan lebih besar. Bahkan membaca hal itu pada masa hujan bisa mempermudah doamu dikabulkan dan mendapatkan banyak keuntungan.

3. Doa banjir Nabi Nuh

Setelah itu, Nabi Nuh AS juga mengajarkan doa saat menghadapi banjir. Ketika dilanda banjir, doa ini bisa dipanjatkan untuk memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah SAW. Doa ini pun dipanjatkan oleh Nabi Nuh AS kala dahulu banyak kaum yang menolak ajaran-Nya dan didatangkan banjir sebagai azab.

Amalan ini dapat dijumpai dalam Al-Qur’an pada Surah Hud Ayat 44. Di bawah ini terdapat bacaaan doa yang boleh Anda ucapkan ketika menghadapi banjir:


Dan dikatakan: “Hai Bumi, telan airmu!” dan “Hai Langit, hentikanlah!”. Air pun surut, perkara itu telah selesai, dan arak-arak tersebut berhenti di atas Gunung Judi. Kemudian terdengar suara: “Jauhilah kaum yang zalim.”

Ya Ardhoblai, apa yang kau lakukan? Dan ya Samawi Aklia, air telah tercurah dan urusan sudah selesai. Namun jarak diberikan kepada kaum zalim tersebut.

Artinya:

Serta diperintahkan: ‘Wahai bumi, tampunglah airmu, dan wahai langit, hentikanlah hujannya.’ Maka air tersebut dialirkan kembali, perintah terpenuhi, dan bahtera itu akhirnya merapat ke Bukit Judi. Kemudian disampaikan: ‘Musnahlah kaum yang zalim.’

4. Sholawat awal untuk berdoa agar dilindungi dari hujan

Menurut situs web resmi NU, ada pula sebuah doa pembuka yang dapat Anda ucapkan sebelum mengamalkan dzikir atau doa lainnya. Berikut adalah contoh doa dari salah satu sahabat yang dikenal disetujui oleh Rasulullah SAW sebagai doa awalan yang tepat.


اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan mengatakan bahwa aku bersaksi bahawa Engkau adalah Tuhan, tidak ada yang disembah kecuali Engkau, Ya Tuhanku Yang Maha Esa, Dialah yang tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, serta tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.

Artinya: “Tuhanku, aku memohon (pertolongan) kepada-Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah. Tiada tuhan selain Engkau Yang Maha Esa, tempat bergantung yang tiada melahirkan dan tiada dilahirkan, serta tiada apapun yang menyamai-Nya.”

Doa tersebut juga direferensikan oleh Imam An-Nawawi dalam Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah melalui riwayat Buraidah RA. Untuk detail lengkapnya, silakan merujuk ke hadits-hadits berikut:


Dalam Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibn Majah, disebutkan dari Buraidah radhiyallahu ‘anh bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam mendengar seseorang berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan mengakui bahwasanya Engkau adalah Allah, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Engkaulah Yang Maha Esa, Yang Memenuhi Kegunaan bagi semua penciptaan; Dia tidak melahirkan dan tidak pula dikeluh-beri anak, serta tiada seorangpun yang setara denganNya.” Lalu beliau bersabda: “Engkau telah meminta Tuhanmu dengan nama di mana jika dipanggil pasti akan didatangi, dan apabila dimintakan pastilah dikabulkan.”

Artinya, “Kami diriwayatkan di Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Buraidah RA bahwa seuatu ketika Rasulullah mendengar salah seorang sahabatnya berdoa dengan lafal, ‘Allâhumma innî as’aluka bi annî asyhadu annaka antallâhu, lâ ilâha illâ antal ahadus shamad, alladzî lam yalid wa lam yûlad, wa lam yakullahû kufuwan ahad.’

Rasulullah SAW selanjutnya menyampaikan, “Engkau telah memohon kepada Allah menggunakan nama Yang Mulia; suatu nama di mana apabila dipergunakan dalam permohonan, Allah pasti akan memberikan anugeranya dan merespon do’a dari orang yang memanggilNya dengan nama tersebut.” (Referensi: Imam An-Nawawi, Al-Adhkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], hlm. 336).

5. Sholawat saat menyaksikan seseorang mengalami cobaan

Tidak hanya untuk pribadi Anda sendiri, doa ini dapat dipanjatkan ketika menyaksikan saudara atau individu lainnya mengalami bencana banjir. Berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi no. 3432, Nabi Muhammad SAW menganjurkannya sebagai doa apabila menemui seseorang yang sedang dilanda musibah.

Abu Hurairah pernah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa pun yang menyaksikan seseorang tengah dilanda musibah kemudian berucap:”


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى عَافَانِى مِمَّا ابْتَلاَكَ بِهِ وَفَضَّلَنِى عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلاً

Alhamdulillahilla yang telah membebaskan saya dari apa yang dibisikkan kepadanya, dan memberikan karunia kepada saya di atas banyak orang yang diciptakan-Nya dengan derajat tertinggi.

Pesan tersebut berbunyi: “Semua pujian hanyalah milik Allah yang telah membebaskan saya dari bencana yang ditebar-Nya kepada Anda. Dan Allah telah menghormati diriku di atas banyak orang.”

Oleh karena itu, dia tidak akan mengalami bencana tersebut.” (HR. At-Tirmidzi, no. 3432)

Walau bukan khusus dirancang untuk menghadapi bencana banjir, doa itu dapat diajak supaya orang yang tertimpa musibah dapat selamat. Pastinya, doa ini pun boleh Anda ucapkan ketika menyaksikan seseorang menderita akibat berbagai macam musibah lainnya.

Berikut adalah beberapa doa yang bisa Anda ucapkan ketika terjadi banjir sehingga bencana tersebut dapat segera berlalu. Mudah-mudahan penjelasan diatas akan sangat berguna untuk anda!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *